belajar memahami warna-warni dalam setiap jengkal episode kehidupan..

"Bekerjalah kamu, maka Allah dan rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaan itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan." [Q.S. 9:105]

Senin, 21 Mei 2012

Hening kembali

hening
berfikir
bersama dengan ketidakpastian
namun pasti dalam genggaman-Nya
mengalun sunyi dalam hati nurani
mencari titik-titik pembenaran
atas apa?
rasanya tak pantas menerka
atas gejala yang telah menunjukkan
bagaimana tidak?
bayangan-bayangan itu
merangkai simfoni keindahan dalam kacamata maya
namun seakan menjadi nyata dalam episode selanjutnya

benar
biarlah menjadi pelangi dalam dinamika yang rumit
memohon keberkahan yang melimpah mengalirinya
salah
biarlah tetap menjadi pelangi
yang akan mewarnai luasnya langit Ilahi
tetap menjadi rahasia-Nya yang telah ditetapkan

kembali hening
berkata dalam diam
merangkai bait-bait kata pengharapan
memuji-Nya, beristighfar, memohon
hingga hati inipun dilapangkan
atas segala ketetapan-ketetapan Nya
yang telah tertulis dengan tinta-tinta Ilahiyah dalam Lauhul Mahfudz

Allah
Engkaulah Maha Lembut
Lembutkanllah dalam setiap "hingar bingar" yang menuntut kata ikhlas
juga pada setiap jejak yang memantulkan bayangan sebuah rasa yang kompleks

Allah
Engkaulah Maha Mengetahui
setiap kata bahkan rasa yang tak terucap
hingga dasar hati yang paling dalam
dan dalam diam yang bermakna

Allah
Engkaulah Maha Menetapkan
atas segala apa yang Kau Kehendaki
biarlah kemudian cinta menghiasi tiap ketetapan-Mu
menjadi ungkapan rasa syukur yang tak hanya sebuah kata
dan teriring kelapangan yang meluas

cukup Allah saja
yang menjadi pemilik dan pembuka rahasia...


@ Rumaisa studio 6
saat memandangi dan merasa

Sabtu, 12 Mei 2012

ujung pena yang menginspirasi..

12 Mei 2012
Alhamdulilah dapet rezeki bulanan hasil keringat sendiri. Alhamdulillah dapet juga meskipun telat ngambil, nggak sempat, karena kemarin sedang ada "tugas negara". Dan saat duit sudah di tangan, yang terlintas langsung di pikiran saya adalah BUKU, ya saya pengen beli buku, entah sejak kapan kegilaan saya pada buku ini semakin menjadi. Sebenarnya memang sudah saya targetkan pula tiap bulan minimal beli satu buku. yap, Gramedia? Beberapa hari yang lalu saya memang sudah merencanakan untuk ke Gramedia, hunting buku ataupun sekadar membaca buku "gratis", hehe. Ah tapi sepertinya saya tak mungkin ke Gramedia malam-malam begini (jam menunjukkan pukul 19.30). Ahaa, akhirnya pikiran saya tertuju pada suatu tempat, toko buku alternatif di tembalang, buku-bukunya juga tak kalah berkualitas, buku-buku yang membangun, menginspirasi dan membuka mata hati. (maaf tak bermaksud untuk promosi, jadi tak saya sebutkan toko bukunya, hehe).
Mengingat kebutuhan saya juga masih banyak, akhirnya saya beli dua buku saja. Buku pertama yang sebenarnya sudah familiar dan saya pun pernah membacanya namun karena saya belum punya okelah saya beli (best seller juga sih). Buku kedua, wah sepertinya menarik, Inspiring Words for Writers karya Ustadz Fauzil Adhim. Buku ini buku lama terbaca dari cetakan 1: Juli 2005, dan belum ada cetakan kedua dan seterusnya. Buku ini sebenarnya juga biasa saja, tapi di dalamnya terpancar energi luar biasa saat membacanya, menggugah semangat dan membangkitkan hasrat untuk menulis yang renyah dan bergizi. Buku inipun dikemas dengan visualisasi yang kuat, kata-katanya dipilih dan didesain sehingga menggugah inspirasi bagi pembacanya.

"Inspirasi ibarat sinar matahari. Ia tak pernah berhenti menyinari, mengalir ke benak-benak yang siap menerima. Tetapi adakalanya inspirasi itu terhalang masuk ke rumah jiwa kita, sehingga butuh jendele-jendela yang dengannya sinar matahari dapat menerpa masuk." kata beliau dalam Pintu-Pintu Inspirasi nya.


Ada beberapa kata-kata inspiratif yang saya kutip dari bacaan terebut:

Seringkali yang membuat ujung pena terhenti menuangkan kata adalah keinginan untuk melahirkan tulisan yang banyak disanjung orang. sementara yang memecah kebuntuan adalah sikap apa adanya dalam menuturkan kebenaran.

Sibuk berpikir bagaimana menulis tulisan, kerap kali membuat pena tak kunjung menggoreskan kata. Banyak orang menganggap bahwa yang sedang berkecamuk di angan-angan adalah bagian paling menarik yang harus disimpan sebagai kejutan. Mereka akhirnya sibuk mencari kalimat pembuka, sehingga kejutan itu tidak pernah muncul menjadi goresan pena yang mengesankan.
Belajarlah dari Al-Qur'an, dan lihatlah betapa banyak surah yang dimulai dengan kata-kata mengejutkan.

Banyak orang menunggu mood untuk menulis. Sementara bagi sebagian lainnya, mood untuk menulis bangkit karena kuatnya keinginan menyampaikan ilmu dan kebenaran.

Seandainya semua orang memiliki kecerdasan yang sama dalam menulis, maka kesabaranlah yang akan membuat engkau berbeda.

Tidak ada penghambat menulis yang lebih besar kecuali ketakutan dinilai. Tidak ada pengendali yang lebih baik kecuali ketakutan menebar kebatilan.

Alami! Tak ada resep yang lebih baik untuk menjadi penulis, kecuali dengan menulis sekarang juga. Karena itu ambillah kertas dan menulislah sekarang juga. Apapun jadinya, buatlah tulisan secara spontan. Kalau memang harus melompat-lompat, biarlah melompat-lompat. Boleh jadi akan menjadi lompatan yang indah. Tulislah sekarang juga! Apapun yang terlintas dalam pikiran. Jangan menoleh ke belakang sebelum selesai satu tulisa. Jangan sibuk memperbaiki kalau tulisan belum selesai. Revisi itu setelah tulisan jadi.

KAta-kata tidak bermakna. Manusialah yang memberi makna. Tetapi kata dapat mengubah jiwa manusia. Dan sesungguhnya, pada jiwa yang berubah, terletak perubahan yang niscaya bagi dunia dan kehidupan.Karenanya, hidupkanlah jiwamu setiap kali mengalirkan kata sehingga tiap-tiap goresan pena akan memiliki ruh!

Cermatlah memilih kata karena ia dapat mengubah kegembiraan menjadi genangan air mata, atau menghapus kesedihan menjadi senyuman bahagia.

Setiap tetes tinta seorang penulis adalah darah bagi perubahan peradaban. Karenanya, perhatikanlah bagaimana ujung penamu bergerak.

Bukan kecerdasan yang membuat seorang penulis menjadi besar. Kehausan pada ilmulah yang membuat setiap goresan pena menjadi penuh makna.

Kata itu pedang lincahnya karena biasa, runcingnya ujung karena terasah, tajamnya ayunan di setiap sisi karena ilmu dan hidupnya jiwa.

Baca karya besar yang berpengaruh dan tuliskan kembali seperti gaya penulis tersebut. Ulangi dan ulangi lagi. Bacalah karya penulis yang sama, dan sekali lagi menulislah dengan gayanya. Sesudah itu, ambillah karya besar lainnya dan lakukan proses yang sama.

Aku lihat, tidak ada kekuatan yang lebih besar melebihi semangat, tidak ada landasan semangat yang lebih kokoh melebihi keyakinan pada agama, dan tidak ada penjaga keyakinan yang lebih baik melebihi niat yang bersih untuk menuju Allah. Demikian pula dalam menulis.

Orang hebat menulis masalah berat dengan bahasa sederhana. Orang yang ingin disebut hebat menulis masalah sederhana dengan bahasa yang berat.

Tulisan yang baik membuat orang berpikir setelah membaca. Tulisan yang buruk membuat orang kelelahan hanya untuk memahami kalimat yang sedang dibaca.

Tulisan yang baik ibarat tanaman melati. Bunganya menjernihkan mata, baunya menyedapkan jiwa, dan setiap tangkainya mudah ditanam dimana saja. Tulisan yang buruk ibarat makanan. Saat dikunyah mengasyikkan, sesudah keluar menjijikkan.

Penulis besar menuangkan kata karena membaca. Sementara mereka yang mabuk ingin disebut penulis, membaca buku karena mau menulis.

Kalau engkau menulis untuk menyampaikan kebenaran, kenapa engkau sibuk mencari inspirasi untuk dituangkan?

Sejarah Islam ditulis dengan hitamnya tinta ulama' dan merah darahnya para syuhada'.

Buku adalah sesuatu yang jika anda pandang maka akan memberikan kenikmatan yang panjang. Dia menajamkan kemampuan intelektual, membuat lidah tidak keluh, dan membuat ujung jemari semakin indah.
Membaca dapat melatih lidah untuk berbicara dengan baik, menjauhkan kesalahan ucapan, dan menghiasinya dengan balaghah dan fashahah. (Petikan buku La Tahzan karya Dr. 'Aidh Al-Qarni)

(dan di sampul terakhir buku IWFW tertulis:)
Pada akhirnya, semua tulisan akan sia-sia apabila tak diingat.
Semua yang kita ingat akan sedikit sekali manfaatnya apabila tidak kita pikirkan.
Dan semua yang kita pikirkan hanya akan melahirkan kepenatan jika tak kita ilmui.
Sedangkan ilmu tanpa amal ibarat pohon tanpa buah.
Sesungguhnya sebaik-baik amal adalah yang kita lakukan dengan ikhlas.
Maka, apakah yang akan engkau lakukan atas setiap tetes tinta dari ujung penamu?


Subhanallah, luar biasa. Kata-kata Ustadz Fauzil Adhim benar-benar menggugah semangat dan menginspirasi untuk terus menulis. Tidaj heran buku-buku karya beliau pun laris disebu para pembaca yang haus akan goresan-goresan pena yang ber-ruh. Tulisan-tulisan beliau pun sarat akan nilai-nilai da'wah. Banyak penulis bermunculan, tetapi sedikit yang membawa idealisme da'wah, menebar kebaikan kepada ummat.

Menjadi pelajaran berharga bagi saya, dan untuk kawan semua, jangan ragu untuk menulis, apapun itu! karena sebagai seorang Muslim, sebagai seorang penerus estafet da'wah, menulis adalah akativitas yang tak boleh ditinggalkan, begitu juga membaca. Membaca dan Menulis, tak bisa dipisahkan.
Menulislah, karena engkau yakin engkau sedang menebar kebaikan..


@ Rumaisha studio 6

Selasa, 10 April 2012

35 hari itu.. di desa itu.. #part 1

Tiga puluh lima hari, ternyata bukan waktu yang panjang.. Tiga puluh lima hari, sepotong episode kehidupan yang menguak banyak makna tentang arti kehidupan, tentang hidup bermasyarakat, tentang kesederhanaan, tentang senyuman, tentang kepedulian, tentang kedewasaan, dan tentunya tentang sejauh mana kau mampu bertahan..

Dan tiga puluh lima hari di tempat itu, di sebuah desa yang begitu menyejukkan baik secara jasadiyah maupun ruhaniyah. Ya, desa itu begitu ramah, cuaca yang tak butuh waktu lama bagi kami untuk melebur dengannya, dan ramah dengan sapaan-sapaan lembut yang mengalir dari bibir sosok-sosok sederhana itu. Suasana desa yang begitu dirindukan..


-9 April 2012-
Malam ini aku berniat untuk menuliskan ini, kisah yang tentunya akan menjadi pembelajaran hidup. Sebenarnya sudah sangat lama ingin menuliskan ini, namun tak kunjung terealisasikan dan akhirnya bisa juga malam ini. Bukan karena nggak sempat, melainkan memang sepertinya tidak cukup untuk menuliskan seluruh kisah indah itu. Yeah, tapi aku pikir kisah itu perlu terdokumentasikan dengan baik entah apapun bentuknya, dan aku ingin tulisan ini menjadi bagian kecil yang akan mengingatkanku kembali pada sepotong episode kehidupan itu..

sepotong episode kehidupan itu,
ya, ialah Kuliah Kerja Nyata (KKN)
di suatu desa nan sejuk, Desa Malebo, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung.

yuk flashback dulu :D

10 Desember 2011
Pada tanggal inilah Universitas Diponegoro mengadakan pembekalan KKN untuk pertama kalinya. Beberapa hari yang lalu aku melihat pengumuman di website LPPM Undip yang berisi kelompok-kelompok KKN yang berada di berbagai kecamatan di beberapa kabupaten. Pada tahun ini Undip mengambil lokasi KKN di 4 kabupaten, yaitu Kabupaten Semarang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Kudus, dan Kabupaten Jepara. Berdasarkan pengumuman tersebut aku berada di Kabupaten Temanggung tepatnya Kecamatan Kandangan. Ada 144 mahasiswa dari berbagai fakultas di Undip yang ditempatkan di Kandangan.
Oke, balik lagi ke pembekalan KKN. Tepatnya hari Sabtu, aku memasuki ke suatu ruangan yang terletak di lantai tiga ruang kuliah fakultas Teknik, ruang kuliah yang kelihatannya cukup panjang, ber-AC, namun menurutku kurang representatif untuk dipakai sebagai tempat pembekalan KKN, terlalu penuh dan 1 meja dipakai buat 3 orang, bagiku kurang nyaman. But no problem lah, aku tak peduli dengan kondisi ruangan pembekalan, bagiku yang terpenting waktu itu adalah aku akan mendapatkan banyak informasi tentang KKN dan khususnya kecamatan dan desa yang akan kutinggali selama 35 hari mendatang bersama temen2 sekelompok yang belum disusun waktu itu.
Pembekalan KKN Kecamatan Kandangan dibuka oleh seorang dosen muda fakultas ekkonomi, bernama Pak Rizal. Jujur saja aku pikir beliau mahasiswa KKN juga, eh ternyata dosen :D. Oke lanjut, Pak Rizal bersama Pak Budi (dosen fakultas MIPA) menyampaikan arahan dan agenda selama pembekalan KKN. Mereka inilah yang kemudian disebut Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Tak ketinggalan, Pak Camat Kecamatan Kandangan, Pak Tri Raharjo, pun hadir untuk menyampaikan kondisi lapangan Kecamatan Kandangan, terkait informasi demografi, potensi kecamatan, permasalahan dan hambatan, serta bercerita tentang KKN sebelumnya yang juga bertempat disana.
Agenda terakhir pembekalan part 1 adalah pembagian desa beserta pemilihan koordinator desa (kordes) dan terakhir adalah pembentukan koordinator kecamatan (korcam). Lalu segera Pak DPL membagi kami 144 mahasiswa ke 16 desa yang ada di Kandangan. Proses pembagian desa yang cukup singkat, aku ditempatkan di desa Malebo bersama 8 mahasiswa dari berbagai fakultas yang belum aku kenal. Bertemu dengan orang yang belum dikenal dalam suatu kelompok? yah basa basi lah, senyum, berkenalan, ngajak bicara. Yah, saat itulah saat pertama kali aku mengenal mereka yang akan hidup bersama denganku 35 hari mendatang. Aku masih ingat, seusai dikelompokkan desa aku duduk satu bangku dengan April dan Aryani, bagku depan ada Huda, Tiwi dan Nana, bangku belakang ada Huri, Mas Dhoni dan Widodo. April dan Mas Dhoni dari FPIK, Aryani dari Ekonomi, Tiwi dari Hukum, Nana dari FKM, Huda Huri dan Widodo dari Teknik. Yah, aku ingat betul, waktu itu memang aku sedang menjadi seorang pengamat, mencoba ma'rifat pada teman-teman yang notabene belum aku kenal sama sekali. Menyenangkan memang, bertemu dengan orang-orang baru, dan bagiku ini adalah kejutan dari Yang Maha Kuasa. Sesuai dengan arahan Pak DPL, kamipun memilih satu kordes, dan akhirnya terpilihlah Widodo sebagai kordes Malebo. Kemudian untuk tingkat Kecamatan terpilihlah Mas Setya sebagai korcam Kandangan.
Sekitar pukul 13.00 opembekalan KKN pertama selesai...

Pembekalan kedua, pembekalan ketiga pun berlangsung, rapat-rapat KKN pun mulai dilakukan (eh rapat euy :D), dan juga survey tempat KKN.
pertemuan-pertemuan inilah yang menjadi sarana untuk mengenal mereka lebih dekat.. (seruuu :D)

(singkat cerita) akhirnya sampailah pada hari Selasa 17 Januari 2012. Yup, waktunya upacara pelepasan KKN Undip. Aku ingat, upacara selesai ja 09.00 lebih dan jam 10.00 aku ada ujian matdis! oh o! tapi mah aku gak boleh panik, santai, cool, tenang :D. Jujur hari itu full agenda. Paginya aku meninggalkan suatu agenda karena upacara, jam 10.00 ujian matdis, jam 13.00 pelantikan senator Undip dan dilanjutkan sidang, eh sidang belum selesai jam 16.00 langsung ijin buat agenda tarbawi, sebenernya ada rapat KKN juga yaudah deh sempetin mampir ke rapat KKN dulu, sekitar 15-20 menit langsung cabut ke agenda tarbawi, dan akhirnya sampai juga di tempat, saatnya me-refresh semua pikiran, kembali dengan lantunan ayat-ayat cinta-Nya, mengucap dzikir dan men-charge ruhiyah setelah seharian full activity. alhamdulillah.. :)

ini foto abis upacara..

18 Januari 2012
saatnya mempersiapkan segalanya untuk menuju ke desa itu, desa Malebo.. Meski paginya masih ujian, siang sampai maghrib sidang senat dilanjutkan pemilihan ketua senat, lalu di tengah-tengah (sore) kepotong buat rapat KKN kecamatan, sebenernya cuma ngobrol bentar sih sekitar 15 menit, ngomongin expo kecamatan, terue langsung meluncur ke rapat KKN desa sekitar 30 menit, dan akhirnya balik lagi ke sidang pemilihan ketua senat Undip. Dan saat isho Maghrib, aku memutuskan untuk ijin meninggalkan sidang tersebut karena sepertinya tubuh ini sudah lelah, butuh istirahat dan mempersiapkan diri untuk esok hari..

19 Januari 2012
Kampus Undip dan sekitarnya rame nih, banyak yang make jaket biru putih :D. Mahasiswa KKN berbagai kecamatan sudah berada di tempat-tempat yang dijadiin tempat ngumpul pemberangkatan. Dan kecamatanku kumpul di depan WP. RAme, anak-anak pada sibuk ngangkut barang-barang, dan aku sama aryani bolak balik ngangkut barang dari kosan, digilir deh punyaku sama punya aryani. Diangkut ke truk yang sudah disewa buat ngangkut barang-barang berat sekecamatan.



Handphone ku bergetar, ada sms masuk, ternyata dari in**i matematika 2011, adek lingkaranku. isinya kira-kira begini;
i: "tadi aku liat mba lho di depan WP, mau berangkat KKN ya mba, semangat ya mba :)"
a: 'iya dek, eh tadi in**i lewat WP, kenapa in**i gak nyapa, sini aja :)"
i: "ah malu mba, hehe. yaudah mba, ati-ati ya, semangat buat KKN nya :)"
a: "iya dek, jazakillah ya :)"
sms simple, namun ternyata memberi ruang semangat tersendiri :)

30 menit kemudian rombongan KKN Kandangan pun memulai berjalan beriringan, kebanyakan naik motor, namun ada juga yang naik mobil dianter keluarganya.. aku, alhamdulillah naik motor bersama aryani :)

Sekitar jam 11.00 sampai di kantor Kecamatan Kandangan, kemudian upacara penerimaan oleh Pak Camat, dan sekitar jam 12.00 upacara selesai dan rombongan KKN Malebo beserta Pak Kades Malebo berangkat menuju kediaman Pak Kades yang akan kami tinggali selama KKN.
Sampai di rumah Pak Kades, disambut dengan senyum, lembut, hangat..
dan perjalanan KKN inipun segera dimulai :)



---to be continued---

Kamis, 29 Maret 2012

tentang ayat-ayat cinta-Nya

bismillahirrohmanirrohim...


”Barang siapa yang disibukkan al-Quran dalam rangka berdzikir dan memohon kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan sesuatu yang lebih utama dari apa yang telah Ku berikan pada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan Kalam Allah dari seluruh Kalam selain-Nya seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (HR Tirmidzi)

Begitulah sabda Rasulullah SAW, seorang teladan paling baik sepanjang zaman. Hadits tersebut memberikan kesimpulan bahwasanya bersibuk-sibuk ria dengan Al-Qur’an adalah salah satu kesibukan teragung menurut Allah dan Rasul-Nya. Pertanyaannya, hayooo sudahkah kita bersibuk-sibuk ria dengan Al-Qur'an? ataukah justru kita tidak pernah sama sekali bersibuk diri dengan Al-Qur'an? silakan bisa dijawab sendiri di hati kawan-kawan dan cobalah untuk direnungkan.

Saya pernah posting tentang bagaimana menjadi khusyu' saat membaca Al-Qur'an (al-Khusyu' 'inda tilawatil Qur'an), dan untuk kali ini saya ingin menulis tentang bagaimana berinteraksi dengan Al-Qur'an. Sejauh ini bagaimana hubungan kita dengan Al-Qur'an? dan harusnya bagaimanakah? Mungkin sebagian kita sudah tahu banyak mengenai hal itu, namun “tahu” dan “menghayati, meresapi, dan merenungi” jelas berbeda. Analogi sederhananya adalah tentu berbeda rasanya antara ketika kita bergaul dengan teman dekat dengan teman yang sekadar kenal saja. Teman dekat telah cukup mengerti kita, pun kita sudah tahu plus minusnya dia. Salah satu faktor utama penyebab munculnya rasa itu ialah intensitas dan kualitas pergaulan kita. Oleh karena itu, penting untuk kita me-refresh dan berusaha menggali lebih dalam setiap keutamaan di balik hubungan kita dengan Al-Qur’an. Semoga dengan ini kita tak hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai “teman”, tapi lebih dari itu, yaitu “sahabat” atau bahkan “saudara”.


Ijinkan saya bercerita tentang pengalaman pribadi.
Saya lahir dari keluarga yang sangat peduli dengan agama. Ibu saya pernah bercerita, saya belajar membaca Al-Qur'an -dulu saya mulai dari belajar Qiroati- sejak umur 2 tahun (lagi unyu-unyunya ^^) di sebuah TPQ yang merupakan bagian dari yayasan Al-Muttaqin. Yah namanya juga anak kecil, baca huruf "ro" jadinya "lo". Namun "perjalanan" di TPQ tersebut tidak hingga akhir. Waktu itu umur saya hampir 4 tahun dan ibu saya sedang hamil adik saya yang pertama, jadi tidak ada yang bisa nganter saya ngaji di TPQ yang jaraknya sekitar 800 m dari rumah, secara bapak saya juga saat itu masih kerja di luar. Akhirnya bapak ibu membuka ngaji di rumah agar saya bisa ngaji di rumah saja, yang ngajar bapak dan ibu saya, alhamdulillah inisiatif orang tua saya bisa membangkitkan anak-anak di sekitar rumah untuk belajar ngaji.
Di lain tempat saya dimasukkan ke TK persiapan MI yang tempatnya satu kompleks dengan tempat ngajar ibu. Alhamdulillah saya bisa mengikuti alur pembelajaran meskipun saat itu umur saya belum sampai 4 tahun. 1 tahun berlalu, sampailah pada acara perpisahan TK, ada hal yang saya lupa, ternyata saat perpisahan TK saya diminta untuk tampil membaca Al-Qur'an, waah luar biasa karena di antara anak-anak yang lain baru saya yang bisa membaca Al-Qur'an. Ibu saya kembali bercerita dengan semangatnya.

kagum. ya, saya begitu kagum dengan orang tua saya. Mereka begitu peduli dengan pendidikan agama untuk anak mereka. Terutama tentang bagaimana mengenal Al-Qur'an. Sejak masa kecil, mengenalkan Al-Qur'an memang paling baik adalah sejak anak masih dini, mengajarkan pula bagaimana membacanya dengan baik dan benar sesuai makhroj dan tajwidnya. Alhamdulillah Allah memberikan kesempatan emas yang tak ternilai harganya.

dan bapak saya pernah berkata (dengan sedikit ubahan ^^):
Banyak orang yang bisa membaca Al-Qur'an namun tidak banyak orang yang mampu menghayati dan mentadabburi makna dari tiap ayat yang dibacanya. Mulailah pada saat sholat. Saat membaca Al-Fatihah resapi artinya, maka akan terasa ketenangan, kekhusyu'an dalam sholat insyaAllah. Lalu pada saat baca Al-Qur'an, bacalah dengan pelan, jangan tergesa-gesa, baca dengan jelas sesuai makhrojnya, dan sempatkan baca terjemahan. makanya yuk perlu dibiasakan baca al-quran diiringi dg memahami maknanya hingga bener2 terasa di dlm hati.

yuk, sekarang kawan! hanya butuh sekarang! kembalilah pada Al-Qur'an. Jadikan ia teman bahkan saudara kita yang senantiasa menemani aktivitas kita.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidakkah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka; kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya.” (HR Muslim)
Betapa bahagianya jika ketenangan selalu meliputi hidup kita. Kemudian, memasuki negeri akhirat pun kita disambut oleh para malaikat yang ternyata mengenal kita karena sering disebut oleh Allah SWT. Subhanallah. Jadikan kami termasuk golongan itu, Ya Allah. Aamiin yaa Robbal 'Aalamiin.



@ Al-Kautsar



Jumat, 16 Maret 2012

Number One for Me (Mother) ~Maher Zain~


*ini lagu spesial buat wanita yang luar biasa di dunia..
untuk ibu, umi, mama, atau apapun sebutannya :)

========================


Number One for Me (Mother)

I was a foolish little child
Crazy things I used to do
And all the pain I put you through
Mama now I'm here for you

For all the times I made you cry
The days I told you lies
Now it's time for you to rise
For all the things you sacrificed

Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you

Mom I'm all grown up now
I'ts a brand new day
I'd like to put a smile on your face everyday

Mom I'm all grown up now
And it's not too late
I'd like to put a smile on your face everyday

Now I finally understand
That famous line
About the day I'd face in time
Coz now I have a child of mine

Even though I was so bad
I've learnt so much from you
Now I'm trying to do it too
Love my kids the way you do

Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you
Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you

Mom I'm all grown up now
I'ts a brand new day
I'd like to put a smile on your face everyday

Mom I'm all grown up now
And it's not too late
I'd like to put a smile on your face everyday

You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
You know you are the number one for me
Oh oh
number one for me

There is no one in this world
That can take your place
Oooh I'm sorry for ever taken you for granted

I will use every chance I get
To make you smile
Whenever I'm around you

Now I will to try to love you
Like you love me
Only God knows how much you mean to me

Oooh
If I could turn back time rewind
If I could make it undone I swear that I would
I would make it up to you

Mom I'm all grown up now
I'ts a brand new day
I'd like to put a smile on your face everyday

Mom I'm all grown up now
And it's not too late
I'd like to put a smile on your face everyday

The number one for me
The number one for me
The number one for me
Oh oh
number one for me