Selasa, 14 Agustus 2012

Dua Satu


Terimakasih Allah atas nikmat-Mu hingga detik ini aku masih bisa bernapas bebas, menikmati segala fasilitas-Mu yg tak terkira pada hidup ini, dan menghirup sisa-sisa usia yg masih Engkau amanahkan padaku. Ternyata kata syukur dekat dengan amanah yg harus ditunaikan. Terimakasih kepada orang-orang tersayang yg senantiasa menguatkanku hingga mampu berdiri seperti ini. Dan terimakasih pula kepada semua pihak yg telah mendoakan baik secara langsung maupun tidak :)
Jazakumullahu khoiron katsiron. Semoga keberkahan dari Allah senantiasa melimpah atas kita semua. aamiin :)

(Status facebook 14 Agustus 2012) 



Minggu, 29 Juli 2012

Ada Rasa

Ada rasa yang perlu dilatih saat pertemuan itu dimulai..
Ada rasa yang mengalir lembut saat visi-visi itu mampu menuju titik yang sama..
Ada rasa yang menggelora saat setiap kesempatan yang hadir mampu diisi dengan kerja-kerja nyata, meski sederhana..
Ada rasa yang menbuncah saat kebersamaan dan senyuman menjadi kesan yang amat mendalam..
Ada rasa yang (entah) tak terdefinisikan saat perpisahan menjad akhir sebuah pertemuan..
Setiap pertemuan pasti ada perpisahan..
Bagaimanapun juga itu bagian dari sebuah keniscayaan..
Memahami, akan melahirkan sikap dewasa dan menyimpulkan hikmah-hikmah yang indah sehingga perpisahan adalah awal pertemuan yang jauh lebih mempesona..


@ Rumaisha Studio 3

Filosofi Kader Militan

Jika ada seribu orang yang berjihad di jalan-Nya, maka jadilah satu di antaranya. Jika ada seratus orang yang berjihad di jalan-Nya, maka jadilah satu di antaranya. Jika ada sepuluh orang yang berjihad di jalan-Nya, maka jadilah satu di antaranya. Dan bila hanya ada satu orang yang berjihad di jalan-Nya, maka jadilah yang satu orang itu.

Kullukum roo’in wa kullukum mas’uulun ‘an ro’iyatihi (Setiap kader adalah pemimpin bagi dirinya sendiri dan merupakan calon pemimpin bagi orang lain).

Tantangan dan beban dakwah semakin hari semakin besar dan rumit. Banyak di antara kader yang mulai “melebur” serta berbalik haluan dan pergi entah ke mana. Kini, kader militan itu pun dirindukan oleh lingkungannya. Sebuah sosok yang tetap bertahan dalam menjaga integritas serta tetap istiqamah di jalan dakwah.
1. Filosofi Padi
Tegak di saat muda dan merunduk di saat tua. Padi berbuah beras yang mengandung kalori yang merupakan sumber tenaga. Begitu pun kader militan yang tumbuh tegar dan menatap masa depan di saat muda serta merunduk di saat semakin tua dan berisi. Ia senantiasa tawadhu dengan ilmu-ilmu yang dimilikinya serta mampu menggerakkan anggota dan menularkan semangatnya.
2. Filosofi Pohon Pisang
Kader militan ibarat pohon pisang yang senantiasa tumbuh dan berbuah tanpa mengenal waktu. Begitu batangnya dipotong, ia akan tumbuh lagi dan terus tumbuh sebab baginya kematian tidak dihadapi dengan kepasrahan, tetapi disiapkan dengan menumbuhkan pohon dan buah yang baru.
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS. Al-Baqarah: 154)
Bila kita telah mengambil suatu peran sebagai kader militan, maka kematian bukanlah hal yang perlu ditakutkan. Kader militan akan mempersiapkan dirinya dengan amal shalih, ilmu yang bermanfaat, anak shalih, generasi kader penerus yang taat serta bermanfaat bagi masyarakat. Justru kematian merupakan hal yang sangat dirindukan untuk bisa langsung berjumpa dengan Sang Kekasih hati.
3. Filosofi Pohon Durian
Akarnya menghujam ke dasar tanah dan batangnya menjulang ke langit serta memberikan buah durian di setiap musim dengan seizin Allah. Akarnya yang tertimbun sangat dalam menyatakan bahwa kader militan memiliki konsep ilmu dan pemikiran yang cukup baik sehingga tidak mudah goyah dengan lingkungan sekelilingnya. Tak hanya itu, kader militan juga dapat mencetak pribadi-pribadi unggul dan tangguh layaknya buah durian.
4. Filosofi Rahilah
“Manusia itu seperti seratus unta yang nyaris tak ditemukan satu rahilah (unta tunggangan yang siap memikul beban di dalamnya)” (H.R. Bukhari).
Rahilah merupakan unta beban, kuat dan cepat jalannya. Unta ini sangat sedikit jumlahnya, kurang dari satu persen. Begitu pun kader militan, jumlahnya memang sedikit, tetapi mereka akan menjadi inti dan penentu dalam suatu kelompok.
5. Filosofi Lebah
Rasulullah SAW bersabda:
“Dan perumpamaan mukmin itu ibaratkan lebah. Ia hinggap di tempat yang baik dan memakan yang baik, tetapi tidak merusak” (H.R. Thabrani)
Lebah merupakan pribadi yang kokoh, mandiri, percaya diri serta memiliki sengatan sebagai media pertahanan diri. Begitu pun kader militan yang memiliki prinsip hidup, kuat melindungi diri dari kezhaliman serta berani memperjuangkan kebenaran. Lebah juga merupakan hewan yang dinamis, kreatif dan inovatif yang mampu membuat rumah di berbagai kondisi tempat, baik itu gunung, pepohonan, maupun di gua-gua. 

Begitu pun kader militan yang sanggup bertahan dan di tempatkan di kondisi mana pun. Lebah menjadi pelopor perubahan, yakni selalu siap, peduli dan profesional dalam melayani serta membantu penyerbukan pada bunga dan tumbuhan. Kader militan selalu siap peduli pada dimensi sosial kemasyarakatan dan senantiasa menebarkan kemanfaatan.
Terkadang, memang butuh waktu dan persiapan yang ekstra dalam meningkatkan kapasitas diri untuk menjadi kader yang militan. Namun yakinlah, selama keyakinan itu masih menghujam dan bersemayam di hati, maka Allah akan selalu mengarahkan kita untuk memperoleh hidayah-Nya. Teruslah berjuang karena surga itu manis, sehingga terkadang kita harus melalui pahitnya pengorbanan untuk mendapatkannya.

Re-post from Juli Trisna Aisyah Sinaga


Karena Allah Cinta

Cinta. Tentu saat kita berpikir tentang cinta maka yang yang terlintas adalah sesuatu yang indah. Cinta, serasa hidup selalu bahagia dengannya. Hari-hari penuh dengan bahagia, tawa, suka cita. Cinta bak siraman air yang menyuburkan tanaman-tanaman kebahagiaan. Subur, dengan bahagia. Namun, pikiranku berhenti pada memori tentang sebuah kesakitan. Rasanya aku tak kenal bahagia. Air mata seakan ingin tumpah bersama dengan kesulitan-kesulitan yang menghimpit dan mengaburkan kata bahagia. Kesulitan-kesulitan itu hadir sebagai momok yang sungguh menakutkan yang harus dihindari. Menjauh dari mereka, bahkan berlari kencang agar mereka tak mampu untuk mendekat lagi dan mata ini pun tak akan melihatnya lagi. Sungguh, rasanya cinta yang sudah dipupuk seakan hancur seiring 'kejutan' mengerikan itu hadir. Mengikis, melebur bersama rasa keputusasaan.

Pernahkah kita merasa demikian?
Aku berpikir dalam hati. Kesulitan, kenapa engkau hadir? Enyahlah, pergilah, tak usah kau ganggu rasa bahagia ini. Aku membatin. Bukankah kesulitan juga adalah cinta? Cinta dari Sang Ilahi yang Maha Pemilik Cinta. Benarkah begitu?

Allah Dzat Pemilik Cinta. Dia memiliki cara lain untuk menunjukkan cinta-Nya, serta untuk menguatkan cinta hamba-Nya. Allah tak lantas membiarkan kita memangku tangan setelah cinta kita miliki. Allah tak langsung membiarkan kita hidup enak begitu saja tanpa kerja keras. Karena Allah mencintai kita dengan sebegitu hebatnya, hingga cintaNya hadir dalam berbagai wujud. Karena Allah mencintai kita dengan jarak yang begitu dekat, hingga kadang itu membuat kita merasainya dengan sangat jelas meski tak terlihat. Karena Allah ingin kita menjadi sosok pecinta yang sempurna, yang tidak hanya menerima utuh cinta tanpa usaha mendapatkannya. Allah memberikan cinta begitu besar pada kita sebagian, namun kita melihatnya telah utuh. Padahal sisanya Allah cicil lewat setiap kesulitan dan kemudahan yang berkejaran dalam hari-hari kita selanjutnya. Kesulitan memberikan kita kesempatan membuktikan cinta kita pada-Nya, karena saat kesulitan hadir tak jarang manusia menjadi begitu lemah dan akhirnya lupa bahwa ada Allah yang adalah sebaik-baik penolong.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. [QS. Al-Baqarah (2) : 286].

Apapun yang Allah bebankan kepada makhluk-Nya, sesulit apapun itu, pasti tidak melebihi kadar kesanggupan makhluk-Nya. Kadar kesanggupan? Kata 'sanggup' ini adalah akibat dari sebuah kerja. Ayat diatas menuntut sebuah usaha seorang makhluk sehingga ia sanggup menghadapi kesulitan apapun yang menghampirinya. Kadar kesanggupan ini dilihat dari tiga hal:
  1. Azam yang kuat
  2. Iltizam (komitmen untuk menyelesaikan masalah)
  3. Tawakkal
Begitulah Allah membungkus sebuah kesulitan dalam balutan cinta. Allah tidak menghadirkan kesulitan tanpa hikmah yang indah, karena di balik kesulitan atau ujian Allah mengjaari kita menjadi hamba yang memiliki azam, iltizam dan bertawakkal. Dan pada hakikatnya, ujian dari Allah hadir untuk mengukur kadar keimanan hamba-hamba Nya. Jika mampu melewatinya, maka keimanannya bertambah dan semakin tinggi keimanan seseorang maka semakin tinggi pula ujiannya. Namun sebaliknya, jika belum mampu melewatinya, maka ujian atau kesulitan yang sama akan terus hadir hingga kita mampu melewatinya. Bak seorang mahasiswa yang mendapatkan nilai E pada sebuah ujian akhir, maka iapun harus mengulangi ujian dengan kadar yang sama.

Hadapilah setiap kesulitan dengan penuh harap cinta kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah akan mengiringkan bersama kesulitan adalah kemudahan. Sepaket. bukan kesulitan dahulu baru kemudahan. Maka, bersemangatlah dalam setiap kesulitan, pandanglah dengan mata cinta. Karena dengan cinta maka kita akan melihat bahwasanya bersama kesulitan ada kemudahan. Janji Allah itu pasti.

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. [QS. Al Insyirah (94) : 5-6]

Ya, sekali lagi, Allah hadirkan kesulitan karena Allah cinta.


@ Rumaisha studio 3
Menghabiskan waktu 'habis-habisan' sebelum meninggalkan Rumaisha

Kalender Akademik TA 20012/2013 Universitas Diponegoro

Nah ini nih Kalender Akademik TA 2012/2013 Universitas Diponegoro. Semoga bermanfaat, wa bil khushush bagi yang masih kuliah di tahun 2012/2013 ini. Termasuk saya. Semangat!! ^^

http://www.ft.undip.ac.id/index.php/component/content/article/1605.html