Minggu, 29 Desember 2013

Jika

Jika kita sudah mencintai dan menyayangi seseorang karena Allah. Apapun yang terjadi, se-menyakitkan apapun bagi kita, maka kita tidak akan pernah menjauh darinya bahkan membencinya. Justru kita ada untuk mendampinginya, memperbanyak doa untuknya..


Ya, cinta karena Allah..


Spesial untuk seseorang yang cukup menyita pikiran belakangan ini
Allah jagalah ia karena sungguh penjagaanku amatlah terbatas
Uhibbuki fillah jiddan :)

Jumat, 06 Desember 2013

Ungu :)

051213
Suatu malam. Saat masing-masing kita sedang bermunajat pada Allah. Mengharapkan suatu keberkahanNya agar terus terlimpah disini. Ya disini. "Di rumah kita". Dan kini sebuah babak baru dimulai.
###

Kado berwarna ungu. Di dalamnya ada pesan singkat:
"Semoga mukena ini bermanfaat ya mbak.. Bisa menemani ketika bermesraan dengan Allah.
Salam cinta dari kami. Semangat bekerja untuk Allah. Mewujudkan harmoni yang indah"
Jazakunnallah saudari-saudariku sayang..
Perjalanan masih panjang..
Semoga semakin mengokohkan kita di jalan cinta para pejuang..

Uhibbukunna fillah :*:)


Senin, 11 November 2013

Aku Rindu

Aku rindu zaman ketika halaqoh adalah keperluan,
bukan sekedar sambilan apalagi hiburan …

Aku rindu zaman ketika mambina adalah kewajiban
bukan pilihan apalagi beban dan paksaan …

Aku rindu zaman ketika dauroh menjadi kebiasaan,
bukan sekedar pelangkap pengisi program yang dipaksakan …

Aku rindu zaman ketika tsiqoh menjadi kekuatan,
bukan keraguan apalagi kecurigaan …

Aku rindu zaman ketika tarbiyah adalah pengorbanan,
bukan tuntutan, hujatan dan obyekan….

Aku rindu zaman ketika nasihat menjadi kesenangan
bukan su’udzon atau menjatuhkan …

Aku rindu zaman ketika kita semua
memberikan segalanya untuk da’wah ini …

Aku Rindu zaman ketika nasyid ghuroba
menjadi lagu kebangsaan…

Aku rindu zaman ketika hadir liqo adalah kerinduan
dan terlambat adalah kelalaian …

Aku rindu zaman ketika malam gerimis
pergi ke puncak mengisi dauroh
dengan uang yang cukup2
dan peta tak jelas …

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah
benar-benar berjalan kaki 2 jam
di malam buta sepulang tabligh da’wah di desa sebelah …

Aku rindu zaman ketika pergi liqo
selalu membawa infaq, alat tulis, buku catatan
dan qur’an terjemah ditambah sedikit hafalan …

Aku rindu zaman ketika binaan menangis
karena tak bisa hadir di liqo …

Aku rindu zaman ketika tengah malam pintu diketuk
untuk mendapat berita kumpul di subuh harinya …

Aku rindu zaman ketika seorang ikhwah
berangkat liqo dengan uang belanja esok hari untuk keluarganya …

Aku rindu zaman ketika seorang murobbi
sakit dan harus dirawat,
para binaan patungan mengumpulkan dana apa adanya …

Aku rindu zaman itu …

Ya Rabb …
Jangan Kau buang kenikmatan berda’wah dari hati-hati kami …

Ya Rabb …
Berikanlah kami keistiqomahan di jalan da’wah ini …


--Sang Murobbi--
KH. Rahmat Abdullah





Sebuah renungan

Selasa, 10 September 2013

Best Picture of Them :)

Foto-foto di bawah ini semua editan karya adek2 saya yg masih unyu2 :)


Fiki sama Dika abis pulang sekolah *sempetin narsis :D


ini ane sama adek ponakan dari sepupu ayah
yang jilbab item si Fillah
 

Fiki yang udah mulai bisa bergaya :*
 

Ana yang manis banget :)
 

Amik nih apadeh :D
 

Ibu, yang mau gak mau harus ikutan narsis juga :*
 

Ini juga bapak, mau2nya dipasangin kacamata aneh, hehe
 

Tempel suka-suka :D *bapak-ibu-fiki-dika-fillah


Yang ini bukan editan, tapi gambarnya kurang jelas.
Si Dika seneng banget kalo foto ngeliatin lesung pipinya.. *manis :)

Selasa, 06 Agustus 2013

Ijinkan Aku Menangis Bersamamu

Lagi..
Aku melihat air mata itu lagi. Mengalir dari sepasang mata yang sendu kala itu. Seperti mata yang lelah, mata yang ingin meluapkan segala kelelahan hati atas lika liku perjalanan. Dan akupun mendengarnya, aku mendengar suara yang bergetar. Kata per kata, kalimat per kalimat, getaran itu semakin terasa. Getaran itu penahan air mata, mungkin begitu. Tapi lagi lagi perasaan manusia tak bisa menipu. Setiap jiwa yang mendengarnya akan merasakan gejolaknya. Ya, dan air mata itu tak terelakkan lagi.
Aku mendengar. Aku melihat. Dan akupun merasakan. Aku hanya terpaku, mencoba menerjemahkan situasi dengan kelembutan hati. Ada kekuatan disana, namun kelemahan juga tak bisa disembunyikan. Ya, semua menjadi semakin nyata dan jelas. semacam perasaan yang yang sudah membuncah, meluap-luap hingga seakan kata-kata telah habis untuk mewakili keresahan jiwa.

Ahh, aku tau apa yang kau rasakan. Tidak mudah. Yang ku tahu kau amatlah tangguh. Lalu apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu kala itu? Bukankah kau sudah cukup teruji? Kesulitan-kesulitan sebelumnya telah kau lalui dengan predikat lulus cumlaude, hingga seakan tak perlu ku merangkulmu. Lalu kenapa?

Merenung dengan kelapangan hati. Mencari serpihan-serpihan yang dulu pernah retak untuk disusun kembali hingga kembali indah. Meskipun tak seindah dulu namun kekuatannya mungkin akan tetap sama. Tentang hati, tentang rasa, yang harusnya semestinya.

Menangislah jika menangis bisa membuatmu lebih tenang. Luapkanlah jika memang itu bisa membuatmu lebih lega. Menjadi dirimu atau memerankan lakon apapun, bukan tentang kita mampu atau tidak melainkan kita mau atau tidak. Tidak ada peran yang mudah, masing-masing memiliki titik ujian yang berbeda. Ujian itu untuk menguji sejauh mana keimanan kita, atau bisa jadi ia adalah teguran atas langkah yang keliru. Bersabarlah. Fashbir, shobron jamilaa. Dan kita diminta untuk  terus berkaca, bermuhasabah atas perjalanan yang telah kita lalui.

Kau tidak sendiri saudariku. Sungguh. Mungkin terasa begitu sendiri, namun percayalah kita sedang bekerja bersama-sama, dalam dimensi ruang yang berbeda. Yakinlah Allah telah menjadi saksi. Maka menangislah jika menangis bisa membuatmu lebih tenang, tapi ijikan aku  menangis pula bersamamu, saudariku...


21 Juni 2013
Untuk saudariku yang kucintai karena Allah
Ijinkan aku menangis bersamamu