Minggu, 29 Juli 2012

Karena Allah Cinta

Cinta. Tentu saat kita berpikir tentang cinta maka yang yang terlintas adalah sesuatu yang indah. Cinta, serasa hidup selalu bahagia dengannya. Hari-hari penuh dengan bahagia, tawa, suka cita. Cinta bak siraman air yang menyuburkan tanaman-tanaman kebahagiaan. Subur, dengan bahagia. Namun, pikiranku berhenti pada memori tentang sebuah kesakitan. Rasanya aku tak kenal bahagia. Air mata seakan ingin tumpah bersama dengan kesulitan-kesulitan yang menghimpit dan mengaburkan kata bahagia. Kesulitan-kesulitan itu hadir sebagai momok yang sungguh menakutkan yang harus dihindari. Menjauh dari mereka, bahkan berlari kencang agar mereka tak mampu untuk mendekat lagi dan mata ini pun tak akan melihatnya lagi. Sungguh, rasanya cinta yang sudah dipupuk seakan hancur seiring 'kejutan' mengerikan itu hadir. Mengikis, melebur bersama rasa keputusasaan.

Pernahkah kita merasa demikian?
Aku berpikir dalam hati. Kesulitan, kenapa engkau hadir? Enyahlah, pergilah, tak usah kau ganggu rasa bahagia ini. Aku membatin. Bukankah kesulitan juga adalah cinta? Cinta dari Sang Ilahi yang Maha Pemilik Cinta. Benarkah begitu?

Allah Dzat Pemilik Cinta. Dia memiliki cara lain untuk menunjukkan cinta-Nya, serta untuk menguatkan cinta hamba-Nya. Allah tak lantas membiarkan kita memangku tangan setelah cinta kita miliki. Allah tak langsung membiarkan kita hidup enak begitu saja tanpa kerja keras. Karena Allah mencintai kita dengan sebegitu hebatnya, hingga cintaNya hadir dalam berbagai wujud. Karena Allah mencintai kita dengan jarak yang begitu dekat, hingga kadang itu membuat kita merasainya dengan sangat jelas meski tak terlihat. Karena Allah ingin kita menjadi sosok pecinta yang sempurna, yang tidak hanya menerima utuh cinta tanpa usaha mendapatkannya. Allah memberikan cinta begitu besar pada kita sebagian, namun kita melihatnya telah utuh. Padahal sisanya Allah cicil lewat setiap kesulitan dan kemudahan yang berkejaran dalam hari-hari kita selanjutnya. Kesulitan memberikan kita kesempatan membuktikan cinta kita pada-Nya, karena saat kesulitan hadir tak jarang manusia menjadi begitu lemah dan akhirnya lupa bahwa ada Allah yang adalah sebaik-baik penolong.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. [QS. Al-Baqarah (2) : 286].

Apapun yang Allah bebankan kepada makhluk-Nya, sesulit apapun itu, pasti tidak melebihi kadar kesanggupan makhluk-Nya. Kadar kesanggupan? Kata 'sanggup' ini adalah akibat dari sebuah kerja. Ayat diatas menuntut sebuah usaha seorang makhluk sehingga ia sanggup menghadapi kesulitan apapun yang menghampirinya. Kadar kesanggupan ini dilihat dari tiga hal:
  1. Azam yang kuat
  2. Iltizam (komitmen untuk menyelesaikan masalah)
  3. Tawakkal
Begitulah Allah membungkus sebuah kesulitan dalam balutan cinta. Allah tidak menghadirkan kesulitan tanpa hikmah yang indah, karena di balik kesulitan atau ujian Allah mengjaari kita menjadi hamba yang memiliki azam, iltizam dan bertawakkal. Dan pada hakikatnya, ujian dari Allah hadir untuk mengukur kadar keimanan hamba-hamba Nya. Jika mampu melewatinya, maka keimanannya bertambah dan semakin tinggi keimanan seseorang maka semakin tinggi pula ujiannya. Namun sebaliknya, jika belum mampu melewatinya, maka ujian atau kesulitan yang sama akan terus hadir hingga kita mampu melewatinya. Bak seorang mahasiswa yang mendapatkan nilai E pada sebuah ujian akhir, maka iapun harus mengulangi ujian dengan kadar yang sama.

Hadapilah setiap kesulitan dengan penuh harap cinta kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah akan mengiringkan bersama kesulitan adalah kemudahan. Sepaket. bukan kesulitan dahulu baru kemudahan. Maka, bersemangatlah dalam setiap kesulitan, pandanglah dengan mata cinta. Karena dengan cinta maka kita akan melihat bahwasanya bersama kesulitan ada kemudahan. Janji Allah itu pasti.

Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. [QS. Al Insyirah (94) : 5-6]

Ya, sekali lagi, Allah hadirkan kesulitan karena Allah cinta.


@ Rumaisha studio 3
Menghabiskan waktu 'habis-habisan' sebelum meninggalkan Rumaisha

Kalender Akademik TA 20012/2013 Universitas Diponegoro

Nah ini nih Kalender Akademik TA 2012/2013 Universitas Diponegoro. Semoga bermanfaat, wa bil khushush bagi yang masih kuliah di tahun 2012/2013 ini. Termasuk saya. Semangat!! ^^

http://www.ft.undip.ac.id/index.php/component/content/article/1605.html

Senin, 23 Juli 2012

Keluarga Pelangi (in memories 2011) *Part 1

Iseng-iseng buka folder foto-foto di laptop, terus buka folder BEM -> Keluarga Pelangi. Lucu, keren, memorable banget.
Mau berbagi sedikit foto-foto kenangan bersama Keluarga Pelangi nih. Suatu Keluarga 'tahun ketiga' sejak aku menginjakkan kakiku di Kampus Diponegoro ini.

Gambar di bawah adalah gambar Kabinet Keluarga Pelangi. [dari kiri] Reza (Presiden), Ganis (Wapres), [ke bawah dari kiri] Puspa (Sekre 1), Via (Sekre 2), Nisa (Litbang), Akbar (Litbang), Diba (Ka.Litbang), Hauli (Litbang), Indras (Litbang), Ayu (Bend 1), Nana (Bend 2), [ke bawah dari kiri] Arsyil (Ka.BSO Scijou), Lutfy (Mentri Dagri), Wulan (Mentri Kesma), Teguh (Mentri PO), Puput (Mentri NIC), Tia (Mentri Ekobis), Handoyo (Mentri Dimas), Yodha (Mentri PSDM), Hanif (Kadiv SEO).

Nah kalo foto di atas ini pas abis upgrading hari pertama..
Kalo yang bawah ini upgrading hari kedua.. Outbond!!
hayuk makan dulu.. hmmm yummi, kenyang kenyang kenyang :D


Sabtu, 21 Juli 2012

Juli : Bulan Uji Nyali

Setiap bulan selalu ada yang 'spesial'
Tentu!
Pada setiap bulan juga selalu ada semangat tersendiri dalam mengarungi hari-hari di dalamnya
and this month..
ini adalah bulan Juli, dan menginjak pada hari ke-21.
Juli -> Bulan Uji Nyali.. Benarkah???

Aku sering membuat kata-kata semangat untuk tiap bulan. Misal April kemarin, April Berhasil. Lalu Juni kemarin, Juni Berani. Mencari akhiran huruf yang sama sehingga terlihat menjadi kata penyemangat dan optimisme yang luar biasa. Kata-kata ini aku tuliskan dengan indah di Time Table (sebuah papan agenda month period ^^)

Lalu untuk bulan Juli ini, entah apakah aku salah memilih kata penyemangat ataukah bagaimana Allahua'lam. Juli Uji Nyali. Awalnya biasa saja, ya wajarlah Uji Nyali wong awal Juli ini UAS, cocoklah sebagai sarana menguji diri. Karena aku juga menargetkan semester ini mampu meraih IPK tiga koma sekian. Meskipun cuma ada empat mata kuliah tapi aku sangat optimis ada peningkatan yang signifikan. Oke kembali lagi dengan 'Uji Nyali'. Lalu berakhirlah UAS ku pada tanggal 12 Juli. Ternyata kata Uji Nyali ini bagaikan doa yang kemudian 'terkabulkan' padaku. Mujarab! Tanggal 11 - 25 adalah masa advokasi mahasiswa baru (maba). Banyak kisah menyentuh yang aku rasakan saat melayani advokasi maba. Inget dib! ini taruhannya adalah kesempatan kuliah mereka. Kamu juga turut ikut campur menentukan mereka bisa kuliah atau tidak. Kataku dalam hati. Sampai akhirnya ada seorang maba mengirim sms padaku dan meminta bantuan untuk diadvokasi lantaran tak ada biaya dan berasal dari keluarga yang sangat menengah ke bawah. Meskipun bukan aku yang mengalami namun rasanya seperti hampir larut dalam kehidupannya apalagi setelah itu ia selalu menanyakan perkembangan advokasi-an nya tiap hari, dan ia pun hampir menyerah saja untuk menunda kuliah jika memang ia tidak bisa mendapat keringanan. Wuaah rasanya hatiku benar-benar nggak karuan. Ya Allah, apa mungkin ini adalah Uji Nyali pertama yang tak terduga untukku???

Tidak sampai disini saja. Pada hari sebelumnya, tepatnya tanggal 10 Juli, ada pesan maasuk. "Dek Di, hari ini ada waktu kosong jam berapa?", tanya seorang mba di tempat lain. Akupun menjawab dan akhirnya kuputuskan jam sekian untuk menemuinya. Subhanallah, ternyata ada 'tugas' baru menghampiri. Wajar saja aku kaget, 'tugas' lama aja belum kelar malah ada yang baru. Inilah Uji Nyali yang kedua. Namun dengan penjelasan panjang kali lebar kali tinggi beliau menyakinkanku. Dengan pertimbangan macam-macam dan juga kemaslahatan bersama (cieee) akupun mengiyakannya. Allahu Robbi, ini adalah amanah dari-Mu. Tanggung jawabku semakin bertambaaaaahh. Bismillah niatkan hanya umtuk Allah semata.

11 Juli 2012. Aku ada janji bertemu dengan sebuah keluarga di daerah Perumahan Tembalang Pesona Asri. Seorang ibu itu adalah kakak sepupu dari adik kelasku di Matematika Undip. "Anggap saja ini adalah proyek bagi diba. Sebagaimana proyek, diba harus punya target tiap bulan. Jika target itu tidak tercapai ya berarti diba nggak berhasil. Perlu ada evaluasi dari itu semua." kata bapak dari dua putra SD kelas 1 dan SMP kelas 1. Aku tertegun. Sepertinya ini adalah Uji Nyali yang ketiga untukku."Ohya, ini kan anak laki-laki semua, diba ya harus sabar juga menghadapi mereka. Anggap saja tantangan buat diba. Saya juga yakin, diba juga ada niat ibadah untuk ini." Aku mencerna semua yang dikatakan beliau baik-baik di dalam otakku. Ya, ini tantangan plus ibadah. Mengajar baca tulis huruf Al-Quran pada mereka yang notabene laki-laki dan 'sangat aktif'. Bismillah semoga barokah!

Hari ini, hari Sabtu. Sudah lima hari, rasanya masih sama, sakit, ngilu, pusing, pegel. (Apa coba ni?). Allah mengujiku dengan sakit akibat tumbuh gigi geraham paling belakang, kalo dalam dunia kesehatan lebih dikenal dengan gigi geraham bungsu. MasyaAllah sakitnya luar biasa. Sakit begini nih yang kemudian berefek kepala pusing, leher pegel, susah ngunyah makanan, makan enak pun jadi nggak enak. Subhanallah yah. Ya inilah Uji Nyali yang keempat.

Sepertinya masih ada Uji Nyali lain yang tidak bisa kutuliskan disini. Kata Uji Nyali ini memang mujarab banget nget nget. Dan bulan Juli belum berakhir, sabar dib, Uji Nyali selanjutnya akan datang lagi. T_T

Hmmm.. Terlepas dari apapun, yang pasti semua ini adalah ujian dari Sang Maha Pengasih. Dia menguji hamba-Nya bukan tanpa sebab dan hikmah. Pasti ada dan mereka masih tersembunyi dibalik ketidaknyamanan sebuah ujian. Ujian ada untuk menaikkan derajat kita di hadapan-Nya. Jika kita lolos maka kita akan naik tingkat dan akan menemui ujian yang lebih berat lagi. Jika tidak lolos maka kita akan mengulang ujian yang sama lagi. Tinggal terserah kita mau pilih yang mana, berusaha untuk lolos atau tidak. Begitulah hidup. Allah tidak menguji hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Dan batas kemampuan ini ada tiga faktor yang menentukan: azzam, iltizam dan tawakkal. Maka biarlah ujian itu datang pada kita karena semakin besar ujian semakin besar pula kualitas kita. Hadapi dan tuntaskan!!! dan jangan lupa untuk tetap SENYUUUUUM :) :) :)

Jumat, 20 Juli 2012

Taujih_2

Jumat, 6 Juli 2012, saat mengantar adek ke sebuah pesantren di Jawa Tengah..
Memasuki asrama putri, subhanallah ruangan yang sangat sederhana, mungkin inilah yang kemudian para santri diajarkan untuk zuhud dan belajar kekeluargaan :)

Aku memandangi dinding di ruang utama, sepertinya memang digunakan untuk sholat berjama'ah, mengaji, makan bersama, ataupun hal-hal lain sebagai sarana untuk menambah tsaqofah dan meningkatkan rasa moroqobah ilallah..
Dan akupun terpesona saat membaca bebarapa baris kalimat di dinding itu, rasanya makjleb :D

ini dia:

"Jangan terpesona oleh wajah dunia yang merona. Hiduplah cahaya keyakinanmu, maka engkau akan melihat betapa semua yang tampak dihadapanmu adalah fana. Waktu berjalan begitu cepat dan akhiratpun begitu dekat. Lihatlah dunia ini lebih cermat maka hatimu tak kan tergoda dan terpikat. Semua keindahan dunia ini semu, wajarlah bila engkaupun mudah jemu. Jadikan Allah sebagai tujuanmu agar langkahmu makin cepat. Janganlah pernah hadir di hadapanNya terlambat sebab cahaya kehidupanmu bisa terhambat"

"Renungkanlah! Setiap kesempatan isilah dengan perilaku yang menyehatkan. Engkau abai bila membiarkan waktumu bebas lepas. Engkau lemah bila hanya sebab sedikit rintangan engkau tak berani hadapi tantangan. Benahi dirimu segera agar kekecewaan dan kegelisahan tak mendera. MenghadapNya tak butuh berhitung, sebab kemurahanNya juga tak terhitung. MenemuiNya tak perlu waktu luang sebab setiap saat Dia datang. Yang menyibukkanmu adalah yang mengkhawatirkanmu. Yang menghalangimu adalah kebiasaanmu sendri. Pertemuan denganNya padahal tak pernah menyita waktu banyak sebanyak kesibukanmu dengan selainNya. Engkau hanya malas hingga engkau tak menganggap waktumu luas. Engkau hanya enggan hingga rintangan kecil saja membuatmu tak bangkit dan bersegera meniti perjalanan. Berdzikirlah!"

Subhanallah, kata-kata yang begitu indah.. penuh inspirasi, sarat makna dan semangat yang menggelorakan!