Saudaraku..
Jika mengalami cobaan sepanjang sungai hendaknya kesabaran seluas samudera
Jika memiliki harapan seluas hamparan hendaknya ikhtiar seluas langit yang membentang
Jika pengorbanan seluas bumi hendaknya keikhlasan seluas jagad raya
jadikan Allah sebagai sandaran, jadikan allah sebagai tujuan, dan jadikan Allah sebagai tempat berharap..
sebuah taujih dari seorang sahabat. Subhanallah, begitu mengena, begitu terasa hingga ulu hati..
menenangkan, menyejukkan, mendamaikan.. memang benar, Allah adalah segalanya. Dialah tujuan, tempat berharap dan memohon pertolongan..
Senin, 18 Juni 2012
Selasa, 12 Juni 2012
Dan Izinkan Aku Menangis Di Jalan Indah Ini
Izinkan aku menangis Ketika rasa bosan menyapa dan menghampiri di jalan nan indah ini, mungkin ini sebuah kejaran fluktuatif iman atau inilah sekumpulan mengudaranya uap yang dihasilkan dari luapan air kelalaian yang mendidih di atas api keluhan. Banyak pelajaran-pelajaran besar yang dapat kita peluk untuk dijadikan sebuah geliat teladan hidup.
Izinkan aku menangis sejenak bersama lantunan sendu tilawahku. Berusaha menemukan kembali sesuatu yang telah raib di dada ini. Kadang memang keterkesanan merupakan sebuah muwashafat jiwa yang berangkulan bersama kerja-kerja cita cinta yang agung.
Izinkan aku meneteskan air mataku di kala pertemuan-pertemuan syahdu dalam kebersamaan shalatku. Karena terkadang kita seperti berada di hutan belantara, tersesat terseok-seok mencari jalan keluar dari berbagai hembusan-hembusan ujian keimanan yang menerpa tak kenal waktu. Namun sesungguhnya pertolongan itu selayaknya begitu dekat ada di dalam shalat yang seharusnya jiwa dan raga yang berdiri tegap dalam menghamba sepenuh dan sebenar-benar penghambaan.
Ada sebuah titah untuk setiap insan, ada kebebasan yang ini diberikan kepada kita namun tak Cuma-Cuma karena ada bayaran yang harus kita keluarkan dari apa yang akan kita perbuat yaitu semua dibayar dengan senyum-senyum sumringahnya rasa syukur dan pertanggungjawaban kelak di pengadilan tertinggi di hadapan yang maha tinggi. Namun kebanyakan kita selalu menghilangkan kesadaran kita tentang pembayaran itu bak si pengutang yang lupa akan utangnya. Ada harga yang harus kita tunaikan atas segala anugerah yang menyertai sepanjang hidup ini. Dan bisa jadi inilah jalan indah yang mampu membayar karena inilah jalan yang berhakikat perniagaan yang paling dan sangat menguntungkan.
Masihkah aku harus menangis yang di dalamnya lekang bukan tangisan bersama derapan langkah menuju sang zat penggenggam jiwa ini. Bukankah di jalan nan indah ini akan banyak kita temui tangisan-tangisan memilukan jiwa. Namun sepertinya tak perlu kau rasakan kesakitan itu yang terlahir dari kesalahpahaman interaksi bersama para pejalan lain di jalan indah ini.
Namun hal penting yang harus kita bangun adalah terjaganya kita dan bangkit setelah menangis. Di jalan nan indah ini tak sejatinya bukan di isi oleh golongan hamba-hamba penikmat candu-candu ekslusifitas tertipu dalam ritual abadi mereka. Karena sang teladan ketika ia pernah di berikan semilir angin surga ketika melakukan perjalanan horizontal dan berlanjut dengan langkah vertikal di episode Isra mi’raj perjalanannya hanya sebatas waktu ketika bumi terlelap dalam selimut gelap dalam semalam saja. Sang uswah harus turun kembali ke bumi tempat dimana peperangan terus bergulir sampai akhir zaman. Ada tebasan pedang suci yang harus di ayunkan mengalahkan kekejian tingkah-tingkah keangkaramurkaan.
Dan di jalan yang indah ini cukuplah kita menjadi para penunggang kuda di siang hari dan menjadi rahib di malam hari. Terlahir untuk mensenyumkan hidup dan mati dan hidup lagi di alam kekal dengan senyuman kekal. Bergerak bersama semangat para pendahulu kita merekalah murid-murid berprestasi di sekolah tarbiyah Rasulullah generasi yang bercahaya menjadi mutiara generasi terbaik sepanjang jalan.
Selembut dan sebijak As Siddiq si pemandu pasca Rasulullah yang kelak posisinya paling dekat dengan Rasulullah di surga, setegas Umar sang perubah langkah periode dakwah terang-terangan yang kelak meminang bidadari edisi special, sepemalu Utsman yang malaikat pun malu padanya dan suami dari dua putri Rasulullah, seberani Ali karamallahu wajhah ketika mengayunkan sang dzulfiqor ia pun menjadi si pencicip pertama dan pelanggan sebuah telaga di surga. Ada juga sahabat yang matinya menggetarkan arrasy, Hanzalah yang jasadnya dimandikan malaikat, Ja’far yang kedua lengannya putus dan syahid kelak tangannya bersayap hijau sepasang sayap yang mampu membawanya melintasi pelosok keluasan surga, Bilal si mantan budak hitam yang suara terompahnya terdengar mendahului Rasulullah di surga, juga sang Azzahra si pemimpin wanita surga, dan banyak lagi yang lainnya. Maka terlahirlah kita menjadi muslim di mana di sinilah jalan indah akan kita mulai. Tumbuhlah menjadi generasi rabbani dan kelak mati bersama selimut kesyahidan.
Dan izinkan lah sejenak kita menangis teruntuk air matanya membasuhkan luka dan kotoran meluluhkan noktah hitam dalam kalbu. Maka bergegaslah menjadi paling militant dalam mengemban tugas ilahiyah bersama bekal warisan sang Rasul, mewarisi akhlak para nabi. Dan akhirilah tangisan-tangisan ketika kita terlahir ke dunia biarkan mereka yang kita tinggalkan menangisi kita namun kita menyunggingkan senyuman indah bersama getaran nafsul muthmainah di ujung kehidupan di dunia ini. Menjejakkan langkah-langkah terbaik di bumi dan melangitkan cita di tempat tertinggi dalam dekapanNya.
-------------------------------------------------------------------------------------
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2012/06/20974/dan-izinkan-aku-menangis-di-jalan-indah-ini
Izinkan aku menangis sejenak bersama lantunan sendu tilawahku. Berusaha menemukan kembali sesuatu yang telah raib di dada ini. Kadang memang keterkesanan merupakan sebuah muwashafat jiwa yang berangkulan bersama kerja-kerja cita cinta yang agung.
Izinkan aku meneteskan air mataku di kala pertemuan-pertemuan syahdu dalam kebersamaan shalatku. Karena terkadang kita seperti berada di hutan belantara, tersesat terseok-seok mencari jalan keluar dari berbagai hembusan-hembusan ujian keimanan yang menerpa tak kenal waktu. Namun sesungguhnya pertolongan itu selayaknya begitu dekat ada di dalam shalat yang seharusnya jiwa dan raga yang berdiri tegap dalam menghamba sepenuh dan sebenar-benar penghambaan.
Ada sebuah titah untuk setiap insan, ada kebebasan yang ini diberikan kepada kita namun tak Cuma-Cuma karena ada bayaran yang harus kita keluarkan dari apa yang akan kita perbuat yaitu semua dibayar dengan senyum-senyum sumringahnya rasa syukur dan pertanggungjawaban kelak di pengadilan tertinggi di hadapan yang maha tinggi. Namun kebanyakan kita selalu menghilangkan kesadaran kita tentang pembayaran itu bak si pengutang yang lupa akan utangnya. Ada harga yang harus kita tunaikan atas segala anugerah yang menyertai sepanjang hidup ini. Dan bisa jadi inilah jalan indah yang mampu membayar karena inilah jalan yang berhakikat perniagaan yang paling dan sangat menguntungkan.
Masihkah aku harus menangis yang di dalamnya lekang bukan tangisan bersama derapan langkah menuju sang zat penggenggam jiwa ini. Bukankah di jalan nan indah ini akan banyak kita temui tangisan-tangisan memilukan jiwa. Namun sepertinya tak perlu kau rasakan kesakitan itu yang terlahir dari kesalahpahaman interaksi bersama para pejalan lain di jalan indah ini.
Namun hal penting yang harus kita bangun adalah terjaganya kita dan bangkit setelah menangis. Di jalan nan indah ini tak sejatinya bukan di isi oleh golongan hamba-hamba penikmat candu-candu ekslusifitas tertipu dalam ritual abadi mereka. Karena sang teladan ketika ia pernah di berikan semilir angin surga ketika melakukan perjalanan horizontal dan berlanjut dengan langkah vertikal di episode Isra mi’raj perjalanannya hanya sebatas waktu ketika bumi terlelap dalam selimut gelap dalam semalam saja. Sang uswah harus turun kembali ke bumi tempat dimana peperangan terus bergulir sampai akhir zaman. Ada tebasan pedang suci yang harus di ayunkan mengalahkan kekejian tingkah-tingkah keangkaramurkaan.
Dan di jalan yang indah ini cukuplah kita menjadi para penunggang kuda di siang hari dan menjadi rahib di malam hari. Terlahir untuk mensenyumkan hidup dan mati dan hidup lagi di alam kekal dengan senyuman kekal. Bergerak bersama semangat para pendahulu kita merekalah murid-murid berprestasi di sekolah tarbiyah Rasulullah generasi yang bercahaya menjadi mutiara generasi terbaik sepanjang jalan.
Selembut dan sebijak As Siddiq si pemandu pasca Rasulullah yang kelak posisinya paling dekat dengan Rasulullah di surga, setegas Umar sang perubah langkah periode dakwah terang-terangan yang kelak meminang bidadari edisi special, sepemalu Utsman yang malaikat pun malu padanya dan suami dari dua putri Rasulullah, seberani Ali karamallahu wajhah ketika mengayunkan sang dzulfiqor ia pun menjadi si pencicip pertama dan pelanggan sebuah telaga di surga. Ada juga sahabat yang matinya menggetarkan arrasy, Hanzalah yang jasadnya dimandikan malaikat, Ja’far yang kedua lengannya putus dan syahid kelak tangannya bersayap hijau sepasang sayap yang mampu membawanya melintasi pelosok keluasan surga, Bilal si mantan budak hitam yang suara terompahnya terdengar mendahului Rasulullah di surga, juga sang Azzahra si pemimpin wanita surga, dan banyak lagi yang lainnya. Maka terlahirlah kita menjadi muslim di mana di sinilah jalan indah akan kita mulai. Tumbuhlah menjadi generasi rabbani dan kelak mati bersama selimut kesyahidan.
Dan izinkan lah sejenak kita menangis teruntuk air matanya membasuhkan luka dan kotoran meluluhkan noktah hitam dalam kalbu. Maka bergegaslah menjadi paling militant dalam mengemban tugas ilahiyah bersama bekal warisan sang Rasul, mewarisi akhlak para nabi. Dan akhirilah tangisan-tangisan ketika kita terlahir ke dunia biarkan mereka yang kita tinggalkan menangisi kita namun kita menyunggingkan senyuman indah bersama getaran nafsul muthmainah di ujung kehidupan di dunia ini. Menjejakkan langkah-langkah terbaik di bumi dan melangitkan cita di tempat tertinggi dalam dekapanNya.
-------------------------------------------------------------------------------------
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2012/06/20974/dan-izinkan-aku-menangis-di-jalan-indah-ini
Kamis, 31 Mei 2012
"Kok jarang keliatan?" (hah??)
Rabu, 30 Mei 2012
kuliah "pendalaman" Statistika Matematika.
Pukul 10.05 Pak Darno sudah siap dengan gayanya yang amat khas. Aku memasuki ruangan kelas yang tergolong lumayan luas dibanding kelas lain. Ruang B.103, ruang yang sering dipakai untuk kegiatan organisasi mahasiswa selain untuk kuliah. Aku memilih tempat duduk di baris tengah, tak di depan tak juga di belakang. Tengok kanan kiri nyari teman seangkatan, yah ketemu deh. Salah satu dari mereka sedang mengerjakan sesuatu, seperti suatu pekerjaan yang tak asing bagiku.
"eh fif, kamu ngerjain apa to?", tanyaku padanya.
"laporan praktikum aktuaria", jawabnya singkat karena sepertinya dia sedang fokus mengerjakannya.
"apa?", tanyaku lagi, sepertinya terdengar sayup-sarup kata laporan aktuaria.
"laporan aktuaria dib", jawabnya lagi.
"hah? aktuaria? emang ada praktikum kok bikin laporan?", tanyaku lagi meyakinkan diri.
"ono lah dib, lha iki lho", jawabnya dengan logat bahasa jawa, meyakinkanku sebuah realita -_-
"hah? coba liat! eh emang kapan praktikume?", tanyaku polos.
"kamis wingi"
"yaaah, kok ora ono sing ngabari aku sih??"
"iyo toh, halah kowe ki aktivis profesional og"
"halah opo sih? aktivis aktivis", kataku, menunjukkan bahwa aku gak suka akademik dikaitkan dengan kegiatan organisasiku -_-
"wis, kowe ki mending mlebu jurusan organisasi wae dib"
"opo maneh"
Kata-kata temenku ini pada awalnya bikin aku kesel, apa-apaan masalah akademik dikaitkan dengan organisasi. Yah kemaren nggak ikut praktikum karena nggak ada yang ngabarin, jarkom nggak ada, yah mungkin karena angkatan tua (tingkat akhir-red) jadi kesannya cuma ngurusin TA, padahal mah kuliah juga masih ada.
Ngoomong-ngomong soal organisasi, yang kebetulan tahun ini diamanahkan di universitas, memang secara otomatis intensitas aktivitas non-akademik di fakultas sedikit berkurang. Kadang ada adek tingkat yang bilang secara langsung, "kok mba diba sekarang jarang keliatan di kampus?", "gimana kabarnya mba? kok gak pernah keliatan nih? ciee sibuknya.." dan bla bla bla masih banyak kalimat-kalimat dari adek-adek tingkat ataupun temen-temen yang seangkatan bahkan senior.
Menanggapi berbagai pernyataan yang terlontar untukku, ada beberapa hal yang bisa aku simpulkan:
1. Ternyata ada yang merindukan keberadaanku di fakultas. (hehe, narsis)
2. Tidak boleh melupakan kegiatan fakultas, adek-adek ini butuh banyak diskusi, apalagi kalo sekarang sudah di tataran universitas, adek-adek butuh transfer dari universitas, sehingga menyamakan frekuensi, tidak boleh ada yang ketinggalan.
3. Ini nih yang tak kalah penting juga, jangan anggap remeh akademik.
4. Orang lain mungkin tidak tahu apa yang sedang kita alami, mungkin kita menganggapnya fine-fine aja, tapi orang lain melihat dari aktivitas kita. Ketika ada yang lemah dari akademik, maka mereka akan menyimpulkan bahwasanya "akademik turun karena organisasi". Na'udzubillah.
5. Tawazzun lah!
Oke, akan menjadi catatan penting bagiku. Tetap jalankan akademik dengan maksimal, jalankan amanah dengan profesional, dan budayakan diskusi terutama dengan adek-adek sehingga muncul geerasi-senerasi baru yang lebih handal..
@ Rumaisha Studio 6
saat mata ini belum bisa terpejam, seiring polemik yang sedang terjadi di sekitar..
kuliah "pendalaman" Statistika Matematika.
Pukul 10.05 Pak Darno sudah siap dengan gayanya yang amat khas. Aku memasuki ruangan kelas yang tergolong lumayan luas dibanding kelas lain. Ruang B.103, ruang yang sering dipakai untuk kegiatan organisasi mahasiswa selain untuk kuliah. Aku memilih tempat duduk di baris tengah, tak di depan tak juga di belakang. Tengok kanan kiri nyari teman seangkatan, yah ketemu deh. Salah satu dari mereka sedang mengerjakan sesuatu, seperti suatu pekerjaan yang tak asing bagiku.
"eh fif, kamu ngerjain apa to?", tanyaku padanya.
"laporan praktikum aktuaria", jawabnya singkat karena sepertinya dia sedang fokus mengerjakannya.
"apa?", tanyaku lagi, sepertinya terdengar sayup-sarup kata laporan aktuaria.
"laporan aktuaria dib", jawabnya lagi.
"hah? aktuaria? emang ada praktikum kok bikin laporan?", tanyaku lagi meyakinkan diri.
"ono lah dib, lha iki lho", jawabnya dengan logat bahasa jawa, meyakinkanku sebuah realita -_-
"hah? coba liat! eh emang kapan praktikume?", tanyaku polos.
"kamis wingi"
"yaaah, kok ora ono sing ngabari aku sih??"
"iyo toh, halah kowe ki aktivis profesional og"
"halah opo sih? aktivis aktivis", kataku, menunjukkan bahwa aku gak suka akademik dikaitkan dengan kegiatan organisasiku -_-
"wis, kowe ki mending mlebu jurusan organisasi wae dib"
"opo maneh"
Kata-kata temenku ini pada awalnya bikin aku kesel, apa-apaan masalah akademik dikaitkan dengan organisasi. Yah kemaren nggak ikut praktikum karena nggak ada yang ngabarin, jarkom nggak ada, yah mungkin karena angkatan tua (tingkat akhir-red) jadi kesannya cuma ngurusin TA, padahal mah kuliah juga masih ada.
Ngoomong-ngomong soal organisasi, yang kebetulan tahun ini diamanahkan di universitas, memang secara otomatis intensitas aktivitas non-akademik di fakultas sedikit berkurang. Kadang ada adek tingkat yang bilang secara langsung, "kok mba diba sekarang jarang keliatan di kampus?", "gimana kabarnya mba? kok gak pernah keliatan nih? ciee sibuknya.." dan bla bla bla masih banyak kalimat-kalimat dari adek-adek tingkat ataupun temen-temen yang seangkatan bahkan senior.
Menanggapi berbagai pernyataan yang terlontar untukku, ada beberapa hal yang bisa aku simpulkan:
1. Ternyata ada yang merindukan keberadaanku di fakultas. (hehe, narsis)
2. Tidak boleh melupakan kegiatan fakultas, adek-adek ini butuh banyak diskusi, apalagi kalo sekarang sudah di tataran universitas, adek-adek butuh transfer dari universitas, sehingga menyamakan frekuensi, tidak boleh ada yang ketinggalan.
3. Ini nih yang tak kalah penting juga, jangan anggap remeh akademik.
4. Orang lain mungkin tidak tahu apa yang sedang kita alami, mungkin kita menganggapnya fine-fine aja, tapi orang lain melihat dari aktivitas kita. Ketika ada yang lemah dari akademik, maka mereka akan menyimpulkan bahwasanya "akademik turun karena organisasi". Na'udzubillah.
5. Tawazzun lah!
Oke, akan menjadi catatan penting bagiku. Tetap jalankan akademik dengan maksimal, jalankan amanah dengan profesional, dan budayakan diskusi terutama dengan adek-adek sehingga muncul geerasi-senerasi baru yang lebih handal..
@ Rumaisha Studio 6
saat mata ini belum bisa terpejam, seiring polemik yang sedang terjadi di sekitar..
Senin, 28 Mei 2012
Setidaknya Kita Pernah Bertemu Disini
Sore hari itu,
saat sang mentari berarah menuju ufuk barat
bersiap untuk beristirahat
melanjutkan episode kehidupan yang lain
memohon ijin dengan lembut sinarnya di sore itu
sinarnya begitu menghangatkan
lalu menyejukkan
hingga seakan ingin berlama-lama merasakannya
hey tunggu
lihatlah langit di ujung timur sana!
bukankah itu pelangi?
bagaimana mungkin
pelangi itu hadir secara tiba-tiba kala sore itu
hujan pun tak menyambutnya
rintik-rintik airnya pun tak mengawalnya
bukan begitu!
Sang Pencipta tak mungkin menghadirkanya secara tiba-tiba
ia sudah menjadi kehendak-Nya
menjadi bagian cerita yang sudah Dia tetapkan
aku memandangnya
ada energi luar biasa yang terpancar darinya
menguatkan
melembutkan
percaya diri
semangat
sebuah asa
tentang harapan
bertahan
lalu masa itu datang
bergulir
ya, kala sore itu
bulir-bulir hangat itu menetes
sama rasanya dengan hangatnya sore itu
dan ia pun menghilang bersama sore yang lembut
entah sepertinya ada yang masih tertinggal
namun biarlah tak apa
karena setidaknya kita pernah bertemu disini..
@ Rumaisha studio 6
sebuah puisi singkat tak beraturan, acak-acakan, tertuang seketika tanpa berpikir panjang, sedikit ingin menumpahkan ombak-ombak kecil yang menggulung hebat di alam pikiran, mungkin tentang masa itu..
saat sang mentari berarah menuju ufuk barat
bersiap untuk beristirahat
melanjutkan episode kehidupan yang lain
memohon ijin dengan lembut sinarnya di sore itu
sinarnya begitu menghangatkan
lalu menyejukkan
hingga seakan ingin berlama-lama merasakannya
hey tunggu
lihatlah langit di ujung timur sana!
bukankah itu pelangi?
bagaimana mungkin
pelangi itu hadir secara tiba-tiba kala sore itu
hujan pun tak menyambutnya
rintik-rintik airnya pun tak mengawalnya
bukan begitu!
Sang Pencipta tak mungkin menghadirkanya secara tiba-tiba
ia sudah menjadi kehendak-Nya
menjadi bagian cerita yang sudah Dia tetapkan
aku memandangnya
ada energi luar biasa yang terpancar darinya
menguatkan
melembutkan
percaya diri
semangat
sebuah asa
tentang harapan
bertahan
lalu masa itu datang
bergulir
ya, kala sore itu
bulir-bulir hangat itu menetes
sama rasanya dengan hangatnya sore itu
dan ia pun menghilang bersama sore yang lembut
entah sepertinya ada yang masih tertinggal
namun biarlah tak apa
karena setidaknya kita pernah bertemu disini..
@ Rumaisha studio 6
sebuah puisi singkat tak beraturan, acak-acakan, tertuang seketika tanpa berpikir panjang, sedikit ingin menumpahkan ombak-ombak kecil yang menggulung hebat di alam pikiran, mungkin tentang masa itu..
Senin, 21 Mei 2012
Hening kembali
hening
berfikir
bersama dengan ketidakpastian
namun pasti dalam genggaman-Nya
mengalun sunyi dalam hati nurani
mencari titik-titik pembenaran
atas apa?
rasanya tak pantas menerka
atas gejala yang telah menunjukkan
bagaimana tidak?
bayangan-bayangan itu
merangkai simfoni keindahan dalam kacamata maya
namun seakan menjadi nyata dalam episode selanjutnya
benar
biarlah menjadi pelangi dalam dinamika yang rumit
memohon keberkahan yang melimpah mengalirinya
salah
biarlah tetap menjadi pelangi
yang akan mewarnai luasnya langit Ilahi
tetap menjadi rahasia-Nya yang telah ditetapkan
kembali hening
berkata dalam diam
merangkai bait-bait kata pengharapan
memuji-Nya, beristighfar, memohon
hingga hati inipun dilapangkan
atas segala ketetapan-ketetapan Nya
yang telah tertulis dengan tinta-tinta Ilahiyah dalam Lauhul Mahfudz
Allah
Engkaulah Maha Lembut
Lembutkanllah dalam setiap "hingar bingar" yang menuntut kata ikhlas
juga pada setiap jejak yang memantulkan bayangan sebuah rasa yang kompleks
Allah
Engkaulah Maha Mengetahui
setiap kata bahkan rasa yang tak terucap
hingga dasar hati yang paling dalam
dan dalam diam yang bermakna
Allah
Engkaulah Maha Menetapkan
atas segala apa yang Kau Kehendaki
biarlah kemudian cinta menghiasi tiap ketetapan-Mu
menjadi ungkapan rasa syukur yang tak hanya sebuah kata
dan teriring kelapangan yang meluas
cukup Allah saja
yang menjadi pemilik dan pembuka rahasia...
@ Rumaisa studio 6
saat memandangi dan merasa
berfikir
bersama dengan ketidakpastian
namun pasti dalam genggaman-Nya
mengalun sunyi dalam hati nurani
mencari titik-titik pembenaran
atas apa?
rasanya tak pantas menerka
atas gejala yang telah menunjukkan
bagaimana tidak?
bayangan-bayangan itu
merangkai simfoni keindahan dalam kacamata maya
namun seakan menjadi nyata dalam episode selanjutnya
benar
biarlah menjadi pelangi dalam dinamika yang rumit
memohon keberkahan yang melimpah mengalirinya
salah
biarlah tetap menjadi pelangi
yang akan mewarnai luasnya langit Ilahi
tetap menjadi rahasia-Nya yang telah ditetapkan
kembali hening
berkata dalam diam
merangkai bait-bait kata pengharapan
memuji-Nya, beristighfar, memohon
hingga hati inipun dilapangkan
atas segala ketetapan-ketetapan Nya
yang telah tertulis dengan tinta-tinta Ilahiyah dalam Lauhul Mahfudz
Allah
Engkaulah Maha Lembut
Lembutkanllah dalam setiap "hingar bingar" yang menuntut kata ikhlas
juga pada setiap jejak yang memantulkan bayangan sebuah rasa yang kompleks
Allah
Engkaulah Maha Mengetahui
setiap kata bahkan rasa yang tak terucap
hingga dasar hati yang paling dalam
dan dalam diam yang bermakna
Allah
Engkaulah Maha Menetapkan
atas segala apa yang Kau Kehendaki
biarlah kemudian cinta menghiasi tiap ketetapan-Mu
menjadi ungkapan rasa syukur yang tak hanya sebuah kata
dan teriring kelapangan yang meluas
cukup Allah saja
yang menjadi pemilik dan pembuka rahasia...
@ Rumaisa studio 6
saat memandangi dan merasa
Langganan:
Postingan (Atom)